Dua tahun lalu, pensiunan tetangga saya — sebut saja Pak Har — sempat mengeluh ke saya sambil duduk di teras. "Tagihan listrik kok makin naik, padahal isi rumah cuma saya sama istri." Dia sudah coba matikan lampu yang nggak perlu, tapi angkanya cuma turun sedikit. Anehnya, beberapa bulan kemudian dia ketawa-ketawa sendiri: tagihannya balik normal, bahkan lebih murah dari sebelum pensiun. Ternyata dia cuma rajin melakukan beberapa hal kecil yang selama bertahun-tahun dia lewatkan.
Nah, dari obrolan sama Pak Har dan pengalaman saya sendiri, saya rangkum jadi daftar periksa. Cocok buat kamu yang sudah masuk masa santai — nggak perlu teknik ribet, nggak perlu beli alat mahal. Cukup telaten.
Baca juga: Ceklis Anak Kantoran: Rumah Rapi, Barang Awet, Listrik Nggak Boros
Satu: Cek yang Bocor, Bukan Cuma yang Nyala
Ini pelajaran pertama dari Pak Har. Selama ini dia fokus matiin lampu, padahal sumber borosnya justru hal-hal yang nggak kelihatan.
Mulai dari charger yang tetap nempel di colokan meski HP sudah penuh. Kecil, sih, tapi kalau ada lima di rumah dan nyala 24 jam, setahun jadi berapa? Lalu rice cooker yang tombol warm-nya dibiarkan menyala seharian. Kulkas yang pintunya nggak rapat karena karetnya sudah keras. Dan seterusnya.
Kebiasaan saya sekarang sederhana: sekali seminggu, jalan keliling rumah sambil ngecek colokan dan alat yang diam-diam masih nyala. Nggak sampai sepuluh menit, kok.
Coba deh, cabut semua yang nggak dipakai sebelum tidur. Dua minggu saja, lihat tagihannya. Saya sendiri kaget.
Dua: Rawat Barang Biar Nggak Cepat Ganti
Ini yang sering saya bilang ke teman-teman: barang paling hemat energi itu ya barang yang nggak perlu dibeli ulang. Kulkas baru yang lebih efisien? Bagus. Tapi kulkas lama yang dirawat bisa bertahan sepuluh tahun lagi.
Kulkas dan Mesin Cuci
Kulkas itu jantungnya dapur. Bersihkan karet pintunya pakai lap basah sesekali, biar tetap rapat. Kalau ada bunga es menumpuk, cabut dan biarkan mencair — jangan dikeruk pakai benda tajam. Untuk mesin cuci, jangan isi melebihi kapasitas, dan bersihkan saringan seratnya rutin. Saya dulu malas, akibatnya mesin jadi berat dan listrik naik.
Kipas, AC, dan Lampu
Kipas angin yang baling-balingnya berdebu itu kerjanya lebih berat, jadi lebih rakus listrik. Lap sebulan sekali. AC-nya? Cukup cuci filternya sendiri, nggak perlu nunggu tukang. Lampu, ganti bertahap ke LED — awalnya terasa mahal, tapi umurnya jauh lebih panjang.
Soal alat elektronik kecil kayak setrika dan teko listrik, jangan biarkan kerak menempel. Kerak bikin pemanasan lama, dan pemanasan lama berarti listriknya lebih banyak.
Tiga: Atur Kebiasaan Harian, Bukan Beli Alat Baru
Ini bagian favorit saya, karena nggak butuh modal sama sekali.
- Jemur pakaian di luar. Mesin pengering itu pemakan listrik nomor satu di banyak rumah. Kalau cuaca lagi bagus, manfaatkan.
- Masak sekali, makan dua kali. Memanaskan ulang lebih hemat daripada memasak dari awal dua kali.
- Buka jendela pagi hari. Cahaya dan udara gratis. Nggak perlu nyalakan lampu sebelum matahari benar-benar pergi.
- Cabut setrika setelah selesai. Jangan biarkan dia "standby" menunggu baju berikutnya yang belum tentu ada.
- Cuci pakaian sekaligus banyak. Satu kali putaran penuh lebih hemat daripada tiga kali putaran setengah.
Saya akui, awalnya terasa repot. Tapi setelah sebulan, jadi refleks. Dan yang paling saya suka: dompet terasa lebih ringan, tanpa harus mengubah gaya hidup jadi pelit.
Empat: Ceklis Bulanan yang Simpel
Biar nggak lupa, saya bikin ceklis yang saya tempel di pintu kulkas. Isinya cuma begini:
- Colokan kosong sudah dicabut?
- Karet pintu kulkas masih rapat?
- Filter AC sudah dibersihkan bulan ini?
- Baling-baling kipas sudah dilap?
- Saringan mesin cuci sudah dikuras?
- Lampu yang mati sudah diganti LED?
- Tagihan bulan ini dibandingkan bulan lalu?
Poin terakhir itu penting, lho. Kadang kita merasa sudah hemat, tapi nggak tahu angkanya. Dengan mencatat, kita jadi tahu mana yang benar-benar berpengaruh. Pak Har bilang, dia jadi semacam "detektif" di rumahnya sendiri — seru, katanya.
Yang perlu diingat, nggak semua harus sekaligus. Pilih dua atau tiga dulu, jalankan sebulan, baru tambah. Namanya juga pensiunan, waktunya banyak, jadi nggak perlu buru-buru.
Dan satu lagi: hemat energi itu bukan soal pelit. Ini soal menghargai apa yang sudah kita punya — rumah, barang-barang, dan uang pensiun yang mestinya dinikmati dengan tenang. Kalau barang awet dan tagihan ringan, sisanya bisa buat hal yang lebih menyenangkan. Seperti ngopi sore bareng cucu, misalnya.